5 tujuan hidup manusia

 5 Tujuan Hidup Menurut Al-Qur’an yang Mengubah Cara Pandangmu


Suatu hari, seorang lelaki tua duduk sendirian di sudut masjid setelah shalat Isya. Wajahnya lelah, bukan karena usia, tetapi karena hidup yang terasa hampa. Ia telah mengejar banyak hal: harta, jabatan, pujian manusia. Namun ketika malam sunyi datang, hatinya justru kosong. Ia bertanya dalam diam, “Untuk apa sebenarnya aku hidup?”


Pertanyaan itu bukan hanya miliknya. Itu adalah pertanyaan semua manusia.


Al-Qur’an datang bukan sekadar sebagai bacaan ibadah, tetapi sebagai peta tujuan hidup. Jika seseorang benar-benar memahaminya, hidupnya tak akan lagi sama. Berikut lima tujuan hidup menurut Al-Qur’an yang jika direnungi, akan mengubah cara pandang kita terhadap dunia, musibah, dan kematian.


1. Hidup untuk Beribadah kepada Alloh


Alloh berkata :


ูˆَู…َุง ุฎَู„َู‚ْุชُ ุงู„ْุฌِู†َّ ูˆَุงู„ْุฅِู†ุณَ ุฅِู„َّุง ู„ِูŠَุนْุจُุฏُูˆู†ِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Az-Zariyat (51): 56)


Banyak orang mengira ibadah hanya sebatas sholat, puasa, dan dzikir. Padahal dalam Islam, seluruh hidup bisa menjadi ibadah jika diniatkan karena Alloh.


Bekerja bukan sekadar mencari uang, tetapi menafkahi keluarga demi ketaatan. Menuntut ilmu bukan untuk gelar, tetapi agar semakin mengenal Alloh. Bahkan senyum dan sabar menghadapi ujian pun tercatat sebagai ibadah.


Saat seseorang menyadari bahwa hidupnya adalah ladang ibadah, ia tak lagi mudah putus asa. Sebab ia tahu: tidak ada satu detik pun yang sia-sia jika dihadirkan untuk Alloh.


2. Hidup sebagai Khalifah di Bumi


Alloh berkata :


ุฅِู†ِّูŠ ุฌَุงุนِู„ٌ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ุฎَู„ِูŠูَุฉً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

(QS. Al-Baqarah (2): 30)


Manusia bukan sekadar penumpang di dunia. Kita adalah pemegang amanah. Dunia bukan milik kita, tetapi titipan.


Menjadi khalifah berarti:


. Menjaga keadilan

. Tidak merusak bumi

. Menolong yang lemah

. Menggunakan kekuasaan dan harta dengan tanggung jawab


Ketika seseorang memahami ini, ia tidak akan hidup serampangan. Ia sadar, setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban, sekecil apa pun.


3. Hidup untuk Diuji, Bukan Dimanjakan


Alloh berkata :


ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َ ุงู„ْู…َูˆْุชَ ูˆَุงู„ْุญَูŠَุงุฉَ ู„ِูŠَุจْู„ُูˆَูƒُู…ْ ุฃَูŠُّูƒُู…ْ ุฃَุญْุณَู†ُ ุนَู…َู„ًุง

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”

(QS. Al-Mulk (67): 2)


Musibah bukan tanda Alloh membenci. Kesulitan bukan berarti doa tidak didengar. Hidup ini bukan tempat istirahat, tetapi ruang ujian.


Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada pula yang diuji dengan pujian.


Orang yang memahami tujuan ini tidak akan bertanya, “Mengapa aku?”

Ia akan bertanya, “Bagaimana aku harus bersikap?”


Karena ia tahu, nilai hidup bukan pada seberapa nyaman, tetapi seberapa sabar dan taat saat diuji.


4. Hidup untuk Mengenal Alloh dan Kebenaran


Alloh berkata :


ุณَู†ُุฑِูŠู‡ِู…ْ ุขูŠَุงุชِู†َุง ูِูŠ ุงู„ْุขูَุงู‚ِ ูˆَูِูŠ ุฃَู†ูُุณِู‡ِู…ْ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri.”

(QS. Fussilat (41): 53)


Hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi memahami. Alam semesta, tubuh manusia, pergantian siang dan malam—semuanya adalah ayat.


Orang yang hidup hanya mengejar dunia akan melihat matahari sebagai panas semata. Tapi orang beriman melihatnya sebagai tanda kebesaran Alloh.


Semakin seseorang mengenal Alloh, semakin kecil dunia di matanya, dan semakin besar akhirat di hatinya.


5. Hidup untuk Kembali kepada Alloh


Alloh berkata :


ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ْุฅِู†ุณَุงู†ُ ุฅِู†َّูƒَ ูƒَุงุฏِุญٌ ุฅِู„َู‰ٰ ุฑَุจِّูƒَ ูƒَุฏْุญًุง ูَู…ُู„َุงู‚ِูŠู‡ِ

“Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju Robbmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.”

(QS. Al-Insyiqaq: 6)


Setiap langkah mendekatkan kita pada satu pertemuan: pertemuan dengan Alloh.


Orang yang menyadari ini tidak akan menunda taubat. Ia tidak akan sombong saat sukses, dan tidak putus asa saat gagal.


Karena ia tahu:

hidup ini perjalanan, bukan tujuan.

Rumah sejati adalah akhirat.


---


- Hidupmu Akan Berubah Jika Tujuannya Benar


Lelaki tua di masjid itu akhirnya tersenyum. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena ia menemukan arah. Hidupnya tak lagi kosong, sebab ia tahu ke mana ia melangkah.


Jika tujuan hidupmu benar,

lelah pun terasa bernilai,

air mata pun terasa bermakna,

dan kematian pun bukan lagi sesuatu yang menak


utkan.


Karena hidupmu bukan tentang dunia,

tetapi tentang Alloh dan pertemuan dengan-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐™Ž๐™ฎ๐™–๐™›๐™–๐™–๐™ฉ ๐™‰๐™–๐™—๐™ž ๐™„๐™ฉ๐™ช ๐˜ฝ๐™ž๐™™'๐™–๐™ ๐˜ผ๐™ฆ๐™ž๐™™๐™–๐™

HUKUM ROKOK SAMA DENGAN SOFT DRINK DAN MINUMAN SACHET

Sholat tarawih habis isya bid'ah ?