PUASA ARAFAH ITU BID'AH
PUASA ARAFAH ITU BID'AH
Perlu diketahui bersama bahwa setiap tanggal 9 Dzulhijjah atau hari Arafah itu merupakan "Hari Raya Umat Islam" (lebaran umat Islam), hari raya makan dan minum sebagaimana keterangan Nabi
Rosululloh berkata
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Artinya :"Hari Arafah, hari idul adha, dan hari tasyriq adalah hari raya kita, pemeluk Islam, ia hari makan dan minum"
(HR.Nasai no. 2954)
Sedangkan disisi lain ada yang memahami bahwa tanggal 9 Dzulhijjah atau hari Arafah itu dianjurkan puasa karena bersumber dari hadits berikut ini
Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim no. 1162)
Ternyata setelah kami Tabayyun hadits tersebut "dhoif" (lemah) bukan dari Nabi alias hadits-hadits buatan orang-orang kafir
Berikut penjelasan kami mengenai hadits-hadits puasa Arafah
Hadits-hadits puasa Arafah itu dhoif (bukan dari Nabi) karena:
1. Hadits tersebut isi atau matannya itu "JANGGAL" atau tidak masuk akal diantaranya: keutamaan puasa Arafah itu melebihi puasa romadhon, padahal puasa romadhon itu puasa wajib yang jelas dalilnya dari kitabulloh hanya bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu (romadhon ke romadhon) sedangkan puasa Arafah itu puasa Sunnah yang sumbernya tidak jelas (rancu penuh keraguan) bisa mengalahkan keutamaan puasa Ramadhan yaitu dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang apalagi dilakukannya hanya sehari saja...
2. Yang berhak menentukan pahala itu hak prerogatif Alloh, Nabi tidak berhak
3. Dalam (HR. Bukhori no.1988 dan HR. Muslim no.1123) dijelaskan bahwa Nabi ketika tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) itu tidak berpuasa artinya Nabi tidak berpuasa
KESIMPULAN:
1. Puasa Arafah itu termasuk amalan bid'ah zaman dulu hingga sekarang yang masih mendarah daging diamalkan oleh orang-orang jahil di seluruh dunia
Dikatakan bid'ah karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh (amalan baru yang bersumber dari hadits-hadits dhoif)
2. Mengenai hadits-hadits puasa Arafah itu dhoif (bukan dari Nabi) sedangkan dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi pernah diberikan susu pada tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) sebagaimana dalilnya
نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.”
(HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123)
Kami berpegang kepada hadits tersebut sudah jelas secara gamblang bahwa Nabi tidak berpuasa pada hari Arafah
3. Hari Arafah, Hari Iedul Adha, hari tasyrik yaitu tanggal 9,10,11,12,13 Dzulhijjah itu termasuk hari raya umat Islam, hari raya makan dan minum artinya dilarang puasa, jika seseorang berpuasa maka haram
Rosululloh berkata
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Artinya :"Hari Arafah, hari idul adha, dan hari tasyriq adalah hari raya kita, pemeluk Islam, ia hari makan dan minum"
(HR.Nasai no. 2954)
Oleh karena itu marilah kita semua untuk kembali kepada Alloh dan Rosulnya dalam mengerjakan amal sholeh, jangan sampai ibadah kita tidak sesuai dengan ketentuan dan tuntunan Nabi karena akan tertolak (sia-sia), berhati-hati juga terhadap hadits-hadits palsu yang merajalela di zaman sekarang ini yang mengatasnamakan Rosululloh dan para Mazhab
Komentar
Posting Komentar