SALAH KAPRAH PENAMAAN MANHAJ SALAF
SALAH KAPRAH PENAMAAN MANHAJ SALAF
Kata manhaj dan syariat itu di dalam Al-Qur'an sebenarnya satu kesatuan istilah syar'i. Syariat yg menjadi aturan-aturan dan manhaj menjadi jalan terang ataupun "kurikulum" yg dibawa Nabi kepada ummatnya. Keduanya sudah lengkap dibawa dan disampaikan oleh Nabi sebagai satu kesatuan.
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗ
Untuk setiap umat di antara kamu, telah Kami berikan SYARIAT dan MANHAJNYA... (Al-Ma'idah : 48)
Sedangkan salaf itu artinya nenek moyang, yg telah mendahului kita (baik sebelum atau setelah Nabi Muhammad), termasuk di dalamnya orang kafir. Bahkan secara khusus Allah menggunakan istilah salaf dalam Al Qur'an untuk kaum fasiq:
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهٗ فَاَطَاعُوْهُ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَ، فَلَمَّاۤ اٰسَفُوْنَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَغْرَقْنٰهُمْ اَجْمَعِيْنَ، فَجَعَلْنٰهُمْ سَلَفًا وَّمَثَلًا لِّلْاٰخِرِيْنَ
Maka dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang FASIQ. Lalu ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya. Maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) SALAF, dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian. (Az-Zukhruf : 56)
ADAPUN madzhab-madzhab yang sudah ada sebenarnya adalah wasilah atau jalan yang dilalui (baca: pendapat) diantara sekian banyak wasilah yang lain dalam menuju manhaj dan syariat yang dibawa Nabi tersebut.
Yang antik dalam pembicaraan ini adalah adanya gerakan tidak bermadzhab tapi memunculkan istilah baru, yakni manhaj yg digandengkan dengan salaf. Sebuah penamaan "nyeleneh" yang tak pernah digunakan oleh para ulama sebelumnya.
Bila dicermati, gerakan manhaj salaf yg muncul belakangan ini hakikatnya ya MADZHAB BARU, hanya saja agar tampil beda maka dipakailah istilah manhaj.
Sebenarnya tak konyol-konyol amat bila term manhaj tsb tdk dimaksudkan bermakna syar'i yakni sekedar metode/jalan/pendapat yg dipakai menuju memahami manhaj Nabi, artinya tdk diklaim satu2nya metode yang benar. Tetapi dalam hal ini lebih baik digunakan istilah "madzhab" yang sudah masyhur digunakan para ulama.
Dan bila memakai term madzhab mestinya sharih merujuk kepada tokoh pencetus pendapat ataupun metodologi yang dimaksud, misalnya sebut saja madzhab wahabi.
Yang membuat runyam adalah klaim bahwa kebenaran mutlak ada pada mereka yg memakai manhaj salaf. Bila sudah begini artinya sdh bicara term syar'i, sama seperti kita mengatakan syariat ataupun AGAMA SALAF.
Gerakan ini saking ingin tampil beda, mereka melakukan "sunatan masal" terhadap dalil-dalil untuk membangun kesan adanya manhaj salaf.
Contoh croping yg sering dipakai ialah hadits ini:
اِتَّقِيْ اللهَ وَاصْبِرِي فَإِنَّ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ
“Bertakwalah kamu dan bersabarlah karena sesungguhnya sebaik-baik Salaf bagi kamu (pendahulumu) adalah aku”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
KESALAHAN PERTAMA, hadits tsb bukan bicara manhaj tapi menjelaskan keutamaan putri beliau, fathimah. Pasca Rasul wafat fathimah lah yg segera menyusul di kalangan keluarganya, yakni tdk ada yang lebih baik dari pada fathimah selain Rasulullah yg mendahuluinya. Jadi salaf dalam konteks itu adalah pendahulu keluarga fathimah.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنَّ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهُ لَمْ يُغَادِرْ مِنْهُنَّ وَاحِدَةً فَأَقْبَلَتْ فَاطِمَةُ تَمْشِي مَا تُخْطِئُ مِشْيَتُهَا مِنْ مِشْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا فَلَمَّا رَآهَا رَحَّبَ بِهَا فَقَالَ مَرْحَبًا بِابْنَتِي ثُمَّ أَجْلَسَهَا عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ سَارَّهَا فَبَكَتْ بُكَاءً شَدِيدًا فَلَمَّا رَأَى جَزَعَهَا سَارَّهَا الثَّانِيَةَ فَضَحِكَتْ فَقُلْتُ لَهَا خَصَّكِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْنِ نِسَائِهِ بِالسِّرَارِ ثُمَّ أَنْتِ تَبْكِينَ فَلَمَّا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتُهَا مَا قَالَ لَكِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ مَا كُنْتُ أُفْشِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِرَّهُ قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ عَزَمْتُ عَلَيْكِ بِمَا لِي عَلَيْكِ مِنْ الْحَقِّ لَمَا حَدَّثْتِنِي مَا قَالَ لَكِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أَمَّا الْآنَ فَنَعَمْ أَمَّا حِينَ سَارَّنِي فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى فَأَخْبَرَنِي أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُهُ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ وَإِنَّهُ عَارَضَهُ الْآنَ مَرَّتَيْنِ وَإِنِّي لَا أُرَى الْأَجَلَ إِلَّا قَدْ اقْتَرَبَ فَاتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ قَالَتْ فَبَكَيْتُ بُكَائِي الَّذِي رَأَيْتِ فَلَمَّا رَأَى جَزَعِي سَارَّنِي الثَّانِيَةَ فَقَالَ يَا فَاطِمَةُ أَمَا تَرْضَيْ أَنْ تَكُونِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ أَوْ سَيِّدَةَ نِسَاءِ هَذِهِ الْأُمَّةِ قَالَتْ فَضَحِكْتُ ضَحِكِي الَّذِي رَأَيْتِ
Dari 'Aisyah dia berkata; 'Suatu ketika para istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berkumpul dan berada di sisi beliau tanpa ada seorang pun yang tidak hadir saat itu. Tak lama kemudian, datanglah Fatimah dengan berjalan kaki yang mana cara jalannya persis dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika melihatnya, maka beliau pun menyambutnya dengan mengucapkan: "Selamat datang hai puteriku yang tercinta!" Setelah itu beliau mempersilahkan untuk duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri beliau. Lalu beliau bisikkan sesuatu kepadanya hingga ia (Fatimah) menangis tersedu-sedu. Ketika melihat kesedihan hati Fatimah, maka sekali lagi Rasulullah pun membisikkan sesuatu kepadanya hingga ia tersenyum gembira. Lalu saya (Aisyah) bertanya kepada Fatimah; 'Ya Fatimah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberikan keistimewaan kepadamu dengan membisikkan suatu rahasia di hadapan para istri beliau hingga kamu menangis sedih.' Setelah Rasulullah berdiri dan berlalu dari tempat itu, saya pun bertanya kepada Fatimah; 'Hai Fatimah, sebenarnya apa yang dikatakan Rasulullah kepadamu dalam bisikan tersebut? ' Fatimah menjawab; "Wahai Ummul mukminin, sungguh saya tidak ingin menyebarkan rahasia yang telah dibisikkan Rasulullah kepada saya." Aisyah berkata; 'Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia, saya hampiri Fatimah seraya bertanya kepadanya; 'Hai Fatimah, saya hanya ingin menanyakan kepadamu tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah kepadamu yang dulu kamu tidak mau menjelaskannya kepada saya.' Fatimah menjawab; 'Wahai Ummul mukminin, sekarang -setelah Rasulullah meninggal dunia- saya akan memberitahukannya kepadamu. Dulu, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membisikkan sesuatu kepada saya, untuk yang pertama kali, beliau memberitahukan bahwasanya Jibril dan beliau biasanya bertadarus Al Qur'an satu atau dua kali dalam setiap tahun dan kini beliau bertadarus kepadanya (Jibril) sebanyak dua kali. Sungguh aku (Rasulullah) tahu bahwa ajalku telah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, SESUNGGUHNYA SEBAIK-BAIK PENDAHULUMU (salafmu) ADALAH AKU. Fatimah berkata; 'Mendengar bisikan itu, maka saya pun menangis, seperti yang kamu lihat dulu. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat kesedihan saya, maka beliau pun berbisik lagi kepada saya: 'Hai Fatimah, maukah kamu menjadi pemimpin para istri orang-orang mukmin atau sebaik-baiknya wanita umat ini? Lalu saya pun tertawa seperti yang dulu kamu lihat." (HR MUSLIM)
Dlm riwayat lain:
حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَتْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا فَاطِمَةَ ابْنَتَهُ فَسَارَّهَا فَبَكَتْ ثُمَّ سَارَّهَا فَضَحِكَتْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ لِفَاطِمَةَ مَا هَذَا الَّذِي سَارَّكِ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَكَيْتِ ثُمَّ سَارَّكِ فَضَحِكْتِ قَالَتْ سَارَّنِي فَأَخْبَرَنِي بِمَوْتِهِ فَبَكَيْتُ ثُمَّ سَارَّنِي فَأَخْبَرَنِي أَنِّي أَوَّلُ مَنْ يَتْبَعُهُ مِنْ أَهْلِهِ فَضَحِكْتُ
Dari Aisyah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam memanggil Fathimah, anaknya. Beliau membisikinya dan ia pun menangis, lalu beliau membisikinya dan ia pun tersenyum. Aisyah berkata; "Saya bertanya kepada Fathimah; 'Apa yang dibisikkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam kepadamu hingga kamu menangis, kemudian beliau berbisik kepadamu dan kamu tersenyum?" ia menjawab; "Beliau berbisik kepadaku dan memberitahuku akan kematiannya, aku pun menangis. Kemudian beliau berbisik kepadaku dan memberitahuku bahwa saya adalah orang yang pertama kali mengikutinya dari keluarganya maka aku pun tersenyum." (HR.muslim 2450)
PEMAKSAAN KEDUA, inilah yang paling menggelikan yakni khas salahfikir dalam kesimpulan.
Bilapun kita mau menggunakan hadits tsb utk membuat manhaj, bila ada kalimat "SEBAIK-BAIK SALAFMU (NENEK MOYANGMU) ADALAH RASULULLAH"
maka mestinya kesimpulan kita adalah bermanhaj kpd manhaj Rasulullah tsb, bukan malah manhaj nenek moyang.
CONTOH PEMAKSAAN DALIL LAINNYA ADALAH MENYUNAT DALIL BERIKUT:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ شُعْبَةَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو جَمْرَةَ حَدَّثَنَا زَهْدَمُ بْنُ مُضَرِّبٍ قَالَ سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ لَا أَدْرِي ذَكَرَ ثِنْتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا بَعْدَ قَرْنِهِ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ يَنْذِرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ
"SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH GENERASIKU, KEMUDIAN GENERASI BERIKUTNYA, KEMUDIAN GENERASI BERIKUTNYA." (HR Bukhori 6201)
Hadits diatas sengaja dipotong, sekali lagi disunat untuk membangun opini adanya sebuah manhaj bernama manhaj salaf.
Bila kita MEMBACA LENGKAP hadits tsb, maka terlihat gamblang maksud dari kata "terbaik" tersebut. Terbaik disitu bermaksud menerangkan SIFAT GENERASI YANG BAIK ADALAH YANG MENJAUHI KHIANAT, BUKAN BICARA MANHAJ TERBAIK ATAUPUN CARA DAN METODOLOGI PEMAHAMAN AGAMA.
Mari kita simak:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جَمْرَةَ قَالَ حَدَّثَنِي زَهْدَمُ بْنُ مُضَرِّبٍ قَالَ سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَمَا أَدْرِي قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ قَوْلِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ يَكُونُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذُرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ
Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang pada masa berikutnya, kemudian orang-orang pada masa berikutnya." 'Imran berkata; 'Saya tidak tahu apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan 'orang-orang sesudah masa beliau' dua atau tiga kali.' Setelah itu akan datang orang-orang yang memberikan KESAKSIAN padahal mereka tidak dimintai kesaksian, mereka BERKHIANAT dan tidak dapat dipercaya, mereka BERNADZAR namun tidak meIaksanakannya dan diantara mereka tampak GEMUK.' (Hr bukhari)
Faham arah pembicaraan hadits di atas? Ya, sama sekali tidak terkait manhaj, bahkan bukan pula bicara pemahaman yang benar hanya salaf dan selain salaf pasti salah. Berikutnya mereka melakukan klaim bahwa Islam yang benar hanya bisa diketahui melalui salaf. Kalau yang dimaksud adalah jalan untuk sampai kpd Nabi, maka jawabnya kita tdk hanya melalui jalan salaf, tetapi juga ulama kholaf.
Maka dlm konteks ini penamaan manhaj salaf juga keliru lagi, karena jalan salaf dan kholaf sama-sama kita lalui.
TAPI KAN SALAF DISEBUT GENERASI TERBAIK?
Jawab: Rasulullah juga menyebut penduduk yaman adalah manusia terbaik dimuka bumi:
يُوشِكُ أَنْ يَطْلُعَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ ، كَأَنَّهَا قِطَعُ السَّحَابِ ، أَوْ قِطْعَةُ سَحَابٍ ، هُمْ خِيَارُ مَنْ فِي الأَرْض
“Akan muncul atas kalian penduduk Yaman. Mereka bak segumpal awan. MEREKA ADALAH SEBAIK-BAIK PENDUDUK BUMI.” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi)
LALU APAKAH DIBENARKAN BERAGAMA MEMBUAT MANHAJ YAMAN? TENTU TIDAK
Jadi jangan salah kaprah..
Bila masih nekat suka maksa potong dalil sana-sini, namakan aja sekalian MANHAJ SUNAT!

Komentar
Posting Komentar